Berada dalam bilik pagi yang sulit kupahami
Dada sesak oleh bongkahan rasa tak bernama yang menyekat dasyat kerongkongan.
Duhai Gusti katakan apakah ini kala ku hanya ingin berkaca pada mataMu
Katakan apakah ini kala rindu terasa kian lapuk melumat habis remah hatiku
Mengapa tak lekas Kau menangkup rinduku
Sebagaimana cinta itu adalah Kau dan aku
Dada sesak oleh bongkahan rasa tak bernama yang menyekat dasyat kerongkongan.
Duhai Gusti katakan apakah ini kala ku hanya ingin berkaca pada mataMu
Katakan apakah ini kala rindu terasa kian lapuk melumat habis remah hatiku
Mengapa tak lekas Kau menangkup rinduku
Sebagaimana cinta itu adalah Kau dan aku
Kau berbisik pada pertemuan di ruang tanpa aksara
Diantara debar pelangi dan rinai kerinduan.
Kosongkan dirimu agar memahamiKu
Mata milikmu buta, itu adalah untuk menyimpan semua keindahanKu
Tutup telingamu agar engkau mendengar senandungKu
Hentikan telinga milikmu untuk menyimpan firmanku
Lepas seluruh kekayaanmu agar engkau memperoleh samudera kekayaanku
Kosongkan dirimu dari semua yang menyimpan pengetahuan tentangKu
Biarkan Sang murni memasuki kudusKu
Ku tersungkur pada kakiMu
Memohon remah karuniaMu
Sungguh wahai Duhai
aku ingin pulang
: berpintu rindu padaMu
Diantara debar pelangi dan rinai kerinduan.
Kosongkan dirimu agar memahamiKu
Mata milikmu buta, itu adalah untuk menyimpan semua keindahanKu
Tutup telingamu agar engkau mendengar senandungKu
Hentikan telinga milikmu untuk menyimpan firmanku
Lepas seluruh kekayaanmu agar engkau memperoleh samudera kekayaanku
Kosongkan dirimu dari semua yang menyimpan pengetahuan tentangKu
Biarkan Sang murni memasuki kudusKu
Ku tersungkur pada kakiMu
Memohon remah karuniaMu
Sungguh wahai Duhai
aku ingin pulang
: berpintu rindu padaMu

No comments:
Post a Comment