Thursday, June 18, 2015

Saat Rindu Menikam

Dalam sebuah percakapan dengan Tuhan dimana kuikat pinta pada panggung kata-kata

Terapung dalam genang riuh yang menimbun laknat  penuh Sang Diri
Pilu telah sekian lama bersarang atas jiwa yang rapuh
Wahai Gusti katakan aku keliru sebab kuhamburkan cintamu bagai serpih debu
Namun sungguh aku ingin selalu berkaca pada matamu
Pada malam-malam yang membawa badai
Pada angin yang menggemuruhkan rindu

Duhai  Sang Penembahan
ingin kulipat jarak agar malam tak lagi sajak
Debur ombak berdebur hadir
Mewartakan gelisah akan mahluk bingung
gundah
resah
Geletar selendangku menggapai udara
Liniku terbakar pesona kencar sunyiMu
Rindu  kian lapuk memakan hingga remah hatiku
Ku pikir kau bahkan tak lekas menangkup rinduku
Sebagaimana cinta itu adalah Kau dan aku

Kau berbisik lirih pada sebuah pertemuan di ruang kata-kata
Diantara langit tanpa warna dan rembulan sabit tak purna
sambut menyambut,
Kosongkan dirimu agar memahamiKu
Mata milikmu buta, itu adalah untuk menyimpan semua keindahanKu
Tutup telingamu agar engkau mendengar senandungKu
Hentikan telinga milikmu untuk menyimpan firmanKu
Lepas seluruh kekayaanmu agar engkau memperoleh samudera kekayaanKu
Kosongkan dirimu dari semua yang menyimpan pengetahuan tentangKu
Biarkan Sang murni memasuki kudusKu

Tersungkurku dalam gigil
Maaf aku tak kukuh
Kerap terjatuh terseret ombak maya
Maafkan ku kerap gagal
Kembali terjatuh pada lubang palung yang sama
Namun ini pagi baru kuikat erat yakin itu
Berpintu rindu padaMu
: Lewat sebuah mutiara
 
Entah bagaimana menolong hatiku kembali seperti sebelum pagi menitipkan aksara luka disana.
Barangkali ku salah biarkan jingga bertahta pada senja.
Dan biarkan mentari selalu terbit pada palung ufuk rasa.

Katakan aku keliru Tuhan.
Bila maya masih merupa bayang yang memutari seperti jarum jam.
Hingga bahagia kembali tertukar dengan lara yang dunia punya.

Aku ingin bekaca pada mataMU
Pada hari yang membawa badai
Pada bayu yang menggemuruhkan rindu
Pada luka yang dititipkan pada rasa.
Hingga masa mampu mengucap selamat tinggal
Dan mencukupkan diri dengan dua buah kata
: aku pulang

Sunday, February 9, 2014

Mencintaimu

 
Malam menjadi saksi akan debur ombak dan denyar rembulan yang kita punya
Cinta tak pernah berjingkat pergi walau tak jarang awan hitam ingin merenggutnya.
Sebab di tiap kelokan telah terpahat nama kita
Dan tiap detik masa bagiku adalah kesempatan untuk selalu mencintaimu

Tolong pergi
Ketika kelebat bayangmu hadir pada senyap, kembali kurasa udara terluka
Ketika nyata itu tertatap, kembali jejak purba remah terbaca
Ketika nyanyian pilu menuntun pada ratap, kembali  langit runtuh menerpa

Taukah kau aku telah teguk kepedihan itu dimana masa tak kuasa mengakhiri
Taukah kau aku telah letih menjadi serpihan dimana aksara tak mampu melerai
Taukah kau aku ingin kau mengabu lesap  dimana bayangmu tak lagi mampu memburamkan hari
Taukah kau aku ingin kau biarkan ku disini karam bersama sunyi, airmata dan mimpi

: tolong pergi 

kau boleh memanggilku
Kau boleh memanggilku wanita dimana pada mataku terlapis kejora jingga termakna gelora

Kau boleh memanggilku perempuan dimana pada payudaraku tersimpan sejuta asa redam.

Kau boleh memanggilku hawa dimana sepotong rusuk telah mampu kusandera yang ternyata menusukku nelangsa.

Kau boleh memanggilku istri bahkan lontemu dimana adaku dibalik kain yang tersibak pada pinggangku


:  menantimu

Rinduku


Haruskah gemuruh rindu yang ku simpan pada getar dawai hati, jingga senja dan bening embun pagi berhenti sebab titik yang kau namakan letih ?

Walau kautau ku kerap terkulai lelah kala gigil mendera bersama rintih rindu yang luruh satu persatu merupa rinai yang membasahi belantara tak berujung.


Pada akhirnya, hasrat itu  ku titipkan pada bentang cakrawala seraya berucap lirih: “Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,dalam rindu yang menjelma menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”

Aku perempuan


Aku perempuan yang lahir disaksikan langit, tumbuh diiringi gaduh alam, hidup bersanding kodrat

Aku perempuan yang memiliki seulas senyum kasih, tatapan lembut menenangkan, belaian yang mendamaikan.

Aku perempuan yang memiliki memiliki dahan yang kokoh, akar yang menghujam dan daun rimbun yang meneduhkan.

Aku perempuan yang memiliki semangat langit dan ridho Sang Pencipta dalam tiap helaan nafas

Aku perempuan yang memiliki cinta, rindu, lara dan bahagia.

Aku perempuan yang ingin dicintai sebagai takdirku

: perempuan