Terapung dalam genang riuh yang menimbun laknat penuh Sang Diri
Pilu telah sekian lama bersarang atas jiwa yang rapuh
Wahai Gusti katakan aku keliru sebab kuhamburkan cintamu bagai serpih debu
Namun sungguh aku ingin selalu berkaca pada matamu
Pada malam-malam yang membawa badai
Pada angin yang menggemuruhkan rindu
Duhai Sang Penembahan
ingin kulipat jarak agar malam tak lagi sajak
Debur ombak berdebur hadir
Mewartakan gelisah akan mahluk bingung
gundah
resah
Geletar selendangku menggapai udara
Liniku terbakar pesona kencar sunyiMu
Rindu kian lapuk memakan hingga remah hatiku
Ku pikir kau bahkan tak lekas menangkup rinduku
Sebagaimana cinta itu adalah Kau dan aku
Kau berbisik lirih pada sebuah pertemuan di ruang kata-kata
Diantara langit tanpa warna dan rembulan sabit tak purna
sambut menyambut,
Kosongkan dirimu agar memahamiKu
Mata milikmu buta, itu adalah untuk menyimpan semua keindahanKu
Tutup telingamu agar engkau mendengar senandungKu
Hentikan telinga milikmu untuk menyimpan firmanKu
Lepas seluruh kekayaanmu agar engkau memperoleh samudera kekayaanKu
Kosongkan dirimu dari semua yang menyimpan pengetahuan tentangKu
Biarkan Sang murni memasuki kudusKu
Tersungkurku dalam gigil
Maaf aku tak kukuh
Kerap terjatuh terseret ombak maya
Maafkan ku kerap gagal
Kembali terjatuh pada lubang palung yang sama
Namun ini pagi baru kuikat erat yakin itu
Berpintu rindu padaMu
: Lewat sebuah mutiara