Sunday, February 9, 2014
Mencintaimu
Malam menjadi saksi akan debur ombak dan denyar rembulan yang kita punya
Cinta tak pernah berjingkat pergi walau tak jarang awan hitam ingin merenggutnya.
Sebab di tiap kelokan telah terpahat nama kita
Dan tiap detik masa bagiku adalah kesempatan untuk selalu mencintaimu
Tolong pergi
Ketika kelebat bayangmu hadir pada
senyap, kembali kurasa udara terluka
Ketika nyata itu tertatap, kembali
jejak purba remah terbaca
Ketika nyanyian pilu menuntun pada
ratap, kembali langit runtuh menerpa
Taukah kau aku telah teguk kepedihan
itu dimana masa tak kuasa mengakhiri
Taukah kau aku telah letih menjadi
serpihan dimana aksara tak mampu melerai
Taukah kau aku ingin kau mengabu
lesap dimana bayangmu tak lagi mampu memburamkan hari
Taukah kau aku ingin kau biarkan ku
disini karam bersama sunyi, airmata dan mimpi
: tolong pergi
kau
boleh memanggilku
Kau boleh memanggilku wanita dimana
pada mataku terlapis kejora jingga termakna gelora
Kau boleh memanggilku perempuan dimana pada payudaraku tersimpan sejuta asa redam.
Kau boleh memanggilku hawa dimana sepotong rusuk telah mampu kusandera yang ternyata menusukku nelangsa.
Kau boleh memanggilku istri bahkan lontemu dimana adaku dibalik kain yang tersibak pada pinggangku
Kau boleh memanggilku perempuan dimana pada payudaraku tersimpan sejuta asa redam.
Kau boleh memanggilku hawa dimana sepotong rusuk telah mampu kusandera yang ternyata menusukku nelangsa.
Kau boleh memanggilku istri bahkan lontemu dimana adaku dibalik kain yang tersibak pada pinggangku
: menantimu
Rinduku
Haruskah gemuruh rindu yang ku simpan pada getar dawai hati, jingga senja dan bening embun pagi berhenti sebab
titik yang kau namakan letih ?
Walau kautau ku kerap terkulai lelah
kala gigil mendera bersama rintih rindu yang luruh satu persatu merupa rinai
yang membasahi belantara tak berujung.
Pada akhirnya, hasrat itu ku
titipkan pada bentang cakrawala seraya berucap lirih: “Jejak itu akan ada
disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,dalam
rindu yang menjelma menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang
perjalanan”
Aku perempuan
Aku perempuan yang lahir disaksikan
langit, tumbuh diiringi gaduh alam, hidup bersanding kodrat
Aku perempuan yang memiliki seulas senyum kasih, tatapan lembut menenangkan, belaian yang mendamaikan.
Aku perempuan yang memiliki memiliki dahan yang kokoh, akar yang menghujam dan daun rimbun yang meneduhkan.
Aku perempuan yang memiliki semangat langit dan ridho Sang Pencipta dalam tiap helaan nafas
Aku perempuan yang memiliki cinta, rindu, lara dan bahagia.
Aku perempuan yang ingin dicintai sebagai takdirku
: perempuan
Pantai terdekap kelam
dengan siluet bayang menggagahi purba
Bayu hembuskan sejuk
dengan semilir yang menuntun meraih semesta di atas kepala
Hening di gelap malam, pada sebuah pertemuan di ruang
kata-kata
Bercerita tentang sebuah rindu yang patah
Sambil terus memetakan dimana kau tak menjejak pada tiap jengkal rasaku
: tak ada
Bercerita tentang sebuah rindu yang patah
Sambil terus memetakan dimana kau tak menjejak pada tiap jengkal rasaku
: tak ada
Berada dalam bilik pagi yang sulit kupahami
Dada sesak oleh bongkahan rasa tak bernama yang menyekat dasyat kerongkongan.
Duhai Gusti katakan apakah ini kala ku hanya ingin berkaca pada mataMu
Katakan apakah ini kala rindu terasa kian lapuk melumat habis remah hatiku
Mengapa tak lekas Kau menangkup rinduku
Sebagaimana cinta itu adalah Kau dan aku
Dada sesak oleh bongkahan rasa tak bernama yang menyekat dasyat kerongkongan.
Duhai Gusti katakan apakah ini kala ku hanya ingin berkaca pada mataMu
Katakan apakah ini kala rindu terasa kian lapuk melumat habis remah hatiku
Mengapa tak lekas Kau menangkup rinduku
Sebagaimana cinta itu adalah Kau dan aku
Kau berbisik pada pertemuan di ruang tanpa aksara
Diantara debar pelangi dan rinai kerinduan.
Kosongkan dirimu agar memahamiKu
Mata milikmu buta, itu adalah untuk menyimpan semua keindahanKu
Tutup telingamu agar engkau mendengar senandungKu
Hentikan telinga milikmu untuk menyimpan firmanku
Lepas seluruh kekayaanmu agar engkau memperoleh samudera kekayaanku
Kosongkan dirimu dari semua yang menyimpan pengetahuan tentangKu
Biarkan Sang murni memasuki kudusKu
Ku tersungkur pada kakiMu
Memohon remah karuniaMu
Sungguh wahai Duhai
aku ingin pulang
: berpintu rindu padaMu
Diantara debar pelangi dan rinai kerinduan.
Kosongkan dirimu agar memahamiKu
Mata milikmu buta, itu adalah untuk menyimpan semua keindahanKu
Tutup telingamu agar engkau mendengar senandungKu
Hentikan telinga milikmu untuk menyimpan firmanku
Lepas seluruh kekayaanmu agar engkau memperoleh samudera kekayaanku
Kosongkan dirimu dari semua yang menyimpan pengetahuan tentangKu
Biarkan Sang murni memasuki kudusKu
Ku tersungkur pada kakiMu
Memohon remah karuniaMu
Sungguh wahai Duhai
aku ingin pulang
: berpintu rindu padaMu
Subscribe to:
Posts (Atom)




.jpg)
